Merasa jadi tokoh, disetiap tempat-tempat pertemuan selalu menjadi bahan cibiran, dan tidak pernah merasa bahwa beberapa orang mentertawainya. Tokoh yang merasa menjadi tokoh ini, selalu menjadikan dirinya yang paling hebat dan merasa pendidikannya paling tinggi, tetapi cara bicaranya masih perlu membaca banyak referensi atau masih harus belajar berkata-kata, berbahasa, sehingga dapat berbicara dan berbahasa dengan baik dan enak didengar. \
Merasa tokoh ini, bukan berarti tidak ada pengikutnya, dan bukan pula semua orang membencinya, tetapi juga ada orang yang menyukainya,..mungkin satu golongan kali, yang mungkin juga ingin dikatakan tokoh masyarakat (belajar mengiklankan dirii). Kelompok ini, haus penghargaan, haus kemenangan, haus materi, haus kebanggaan, sampai akhirnya kelompok ini haus akan identitas.
Merasa tokoh sesungguhnya identik dengan kata "KAUM KRISIS IDENTITAS" yang ingin menggapai tujuan tetapi tidak pernah melaksanakan aksi-aksi terpuji dan dikenang masyarakat. Krisis identitas ini tak lebih sebagai pecundang yang terlahir dari kandang silat kampung yang baru 10 langkah dan kuda-kuda, sudah mengklaim dirinya mampu mengalahkan Jet Lee dan Bruslie, sehingga dengan kemampuan sebatas itu, sudah tampil pede dan merasa diri paling hebat dikampung itu.
Mari menyadari diri, untuk tidak sembarang bicara, dan belajar untuk mengetahui apa dampak dari setiap bahasa yang disampaikan, dan mampu memaknai serta menghitung-hitung keuntungan dan kerugian yang akan muncul dari setiap rentetan kalimat-kalimat itu. Sakolahki,...di..............
Berhentilah Merasa Tokoh, ................................... tarada guna, anda tidak akan pernah menempati ruang hati di masyarakat.....bilamana anda terus merasa menjadi Tokoh.






0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan masukkan saran dan komentar Anda